Minggu, 28 Oktober 2012

Peran Bahasa Ibu dalam Membangun Kebudayaan Daerah

Oleh : Mahsun
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemdikbud
Pendahuluan
Ahli bahasa atau linguis mungkin akan merasa sangat puas tatkala menganalisis bahasa sebagai suatu sistem, di mana fungsi variabel-variabel linguistik tergantung pada gejala-gejala lingusitik lain, sehingga dia tidak perlu mencari penjelasan yang berada di luar bahasa untuk menyelesaikan masalah kebahasaan. Namun demikian, amatlah penting untuk disadari bahwa bahasa digunakan oleh manusia yang mejadi anggota masyarakat tertentu, yang masing-masing memiliki kebudayaan yang khas.
Ada kecenderungan bahwa para individu berbeda-beda dalam penggunaan bahasa. Oleh karena itu, Variabelvariabel sosial seperti kelas dan status orang yang berbicara juga mempengaruhi caranya menggunakan bahasa. Selain itu, orang memilih menggunakan kata-kata sedemikian rupa sehingga dapat menyampaikan sesuatu yang berarti, dan apa yang berarti dalam kebudayaan yang satu dapat berbeda dengan apa yang berarti dalam kebudayaan yang lain. Dalam kenyataannya, cara kita menggunakan bahasa mempengaruhi dan dipengaruhi oleh kebudayaan kita.
Berdasarkan pengalamannya dalam menganalisis bahasa Indian Hopi, Edwar Sapir bersama muridnya Benyamin Lee Whorf mengembangkan suatu teori, yang terkenal dengan sebutan Sapir-Whorf Hyphothesis. Menurut teori ini, bahwa bahasa bukan sekadar cara memberi kode untuk proses menyuarakan gagasan dan kebutuhan manusia, tetapi lebih merupakan suatu pengaruh pembentuk yang melalui penyediaan galur-galur ungkapan yang mapan, yang menyebabkan orang melihat dunia dengan caracara tertentu, mengarahkan pikiran dan perilaku manusia. Dengan demikian, tak dapat disangkal lagi bahwa bahasa merupaka salah satu unsur kebudayaan yang sekaligus menjadi wadah serta pembentuk kebudayaan itu sendiri.
Bahasa Ibu dan Pembangunan Kebudayaan Daerah
Konsep kebudayaan daerah sering dipertentangkan dengan kebudayaan nasional. Namun, dengan tidak melibatkan diri dalam diskusi tentang kedua konsep kebudayaan yang dalam tatanan berbangsa dan bernegara sering dipertentangkan tersebut, karena yang satu menafikan keberadaan yang lain, maka konsep kebudaayaan daerah dalam tulisan ini mengacu pada kebudayaan yang terdapat pada sukubangsa-sukubangsa dalam suatu negara. Dengan kata lain, dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia, kebudayaan daerah adalah kebudayaan yang dimiliki oleh sukubangsa-sukubangsa yang tersebar di seluruh wilayah RI, seperti kebudayaan Jawa, Bali, Sasak, Samawa, Mbojo, Sunda, Bugis dll.
Adapun kebudayaan itu sendiri merupakan seperangkat peraturan atau norma yang dimiliki bersama oleh para anggota masyarakat, yang kalau dilaksanakan oleh para anggotanya, melahirkan perilaku yang dipandang layak dan dapat diterima oleh seluruh anggota masyarakat tersebut (Haviland, 1999: 333). Dengan demikian, kebudayaan terdiri dari nilai-nilai, kepercayaan, dan persepsi abstrak tentang jagat raya yang berada di balik, dan yang tercermin dalam perilaku manusia. Semua itu merupakan milik bersama para anggota masyarakat, dan apabila orang berbuat sesuai dengan itu, maka perilaku mereka dianggap dapat diterima di dalam masyarakat. Persoalannya mengapa kebudayaan itu harus ada? Orang memelihara kebudayaan untuk menangani masalah dan persoalan yang dihadapi. Agar lestari, kebudaayaan harus dapat memenuhi kebutuhankebutuhan pokok dari orang-orang yang hidup menurut peraturan-peraturannya, harus memelihara kelangsungan hidupnya sendiri, dan mengatur agar anggota masyarakat dapat hidup secara teratur.
Dalam hal ini, kebudayaan harus menemukan keseimbangan antara kepentingan pribadi masing-masing orang dan kebutuhan masyarakat sebagai suatu keseluruhan. Karena itu pula, kebudayaan harus memiliki kemampuan untuk berubah agar dapat menyesuaikan diri dengan keadaan-keadaan baru atau mengubah persepsinya tentang keadaan yang ada. Persoalannya, bagaimanakan kebudaayaan (daerah) itu dibangun melalui bahasa ibu ? Dengan kata lain, bagaimana bahasa ibu itu berperan dalam membangun kebudayaan daerah ?
Untuk artikel lengkapnya, unduh di sini.

Rabu, 23 Mei 2012

Ainun Mardiyah Ikuti OSN Tingkat Provinsi Sumut

Salah satu Siswi terbaik  SMP N 1 Batang Onang , Ainun Mardiyah, Kelas VIII-C,FISIKA  akan mengikuti OSN (Olimpiade Sains Nasional) tingkat provinsi Sumatera Utara 2012.Dia berhak ke tingkat Provinsi karena keluar sebagai Juara 1 OSN tingkat kabupaten Padang Lawas Utara.
Hal itu disampaikan Dikmenum Kabid Kurikulum Dinas Pendidikan Paluta,H. Munif hari ini,Rabu,23 Mei 2012 kepada Bendahara SMPN 1 Batang Onang.
Seperti dikabarkan sebelumnya,Empat Siswa/siswi SMP N 1 Batang Onang  mengikuti OSN (Olimpiade Sains Nasional) tingkat Kabupaten Padang Lawas Utara di Kantor Dinas Pendidikan Paluta Sabtu,5 Mei 2012.Keempat Siswa/siswi itu adalah sebagai berikut:

  1. Ainun Mardiyah, Kelas VIII-C,FISIKA
  2. Waju Paringa, Kelas VIII-D,IPS
  3. Indra Briska,Kelas VII-A,  Matematika
  4. Nurhiziriah,Kelas VIII-A ,  Biologi

Kamis, 03 Mei 2012

Empat Siswa SMPN 1 Batang Onang Ikuti OSN


Empat Siswa/siswi SMP N 1 Batang Onang akan mengikuti OSN (Olimpiade Sains Nasional) tingkat Kabupaten Padang Lawas Utara di Kantor Dinas Pendidikan Paluta Sabtu,5 Mei 2012.Keempat Siswa/siswi itu adalah sebagai berikut:
  1. Ainun Mardiyah, Kelas VIII-C,FISIKA
  2. Waju Paringa, Kelas VIII-D,IPS
  3. Indra Briska,Kelas VII-A,  Matematika
  4. Nurhiziriah,Kelas VIII-A ,  Biologi

Ibunda tercinta dari Bapak Zamril Tutup Usia

Smpn 1 Batang Onang kembali berduka cita.Kabar duka Kali ini datang dari Ibunda Bapak  Zamril Tanjung,Guru IPA.Ibunda tercinta dari Bapak Zamril  menghembuskan nafas yang terakhir pada Hari Jumat,21 April 2012 di Lima puluh Kota,Sumatera Barat.
KELUARGA BESAR SMPN 1 BATANG ONANG TURUT BERDUKA CITA YANG SEDAM-DALAMNYA ATAS BERPULANGNYA KE RAHMATULLAH IBUNDA DARI BAPAK ZAMRIL TANJUNG,SEMOGA ALMARHUMAH MENDAPATKAN TEMPAT TERBAIK DI SISINYA DAN KEPADA KELUARGA YANG DITINGGALKAN TABAH MENGHADAPI MUSIBAH INI,AMIN.

Selasa, 21 Februari 2012

CONTOH SOAL UJI KOMPETENSI GURU

PREDIKSI SOAL UJI KOMPETENSI GURU
kompetensi :pedagogik


1 SCL adalah salah satu inovasi di bidang pendidikan yang bercirikan: 

a. Menekankan transfer pengetahuan dari guru ke siswa, 
b. Lebih menekankan pada penguasaan materi, 
c. Penekanan pada pencapaian kompetensi, 
d. Proses pembelajaran dan penilaian dilakukan secara terpisah, 
e. Penekanan pada ketuntasan materi pelajaran.
 

Rabu, 07 Desember 2011

BAPAK F DAULAY TUTUP USIA

Kabar duka kembali menerpa Smpn 1 Batang Onang,berita kali ini datang dari Bapak F Daulay Pensiunan guru yang juga dikenal luas sebagai tokoh agama di kecamatan Batang onang.Bapak F Daulay menghembuskan nafas terakhir pada rabu petang tanggal 7 desember 2011.
Jenazah almarhum saat ini berada di rumah duka jl sidimpuan-gunung tua,desa aek godang Paluta.Dikabarkan,jenajah akan dikebumikan besok,kamis 8 desember 2011 di aek godang.

KELUARGA BESAR SMPN 1 BATANG ONANG TURUT BERDUKA CITA YANG SEDAM-DALAMNYA ATAS BERPULANGNYA KE RAHMATULLAH BAPAK F DAULAY,SEMOGA ALMARHUM MENDAPATKAN TEMPAT TERBAIK DI SISINYA DAN KEPADA KELUARGA YANG DITINGGALKAN TABAH MENGHADAPI MUSIBAH INI,AMIN

AYAHANDA DARI IBU MEGAWATI HARAHAP TUTUP USIA

Smpn 1 Batang Onang kembali berduka.Kabar duka Kali ini datang dari Ibu Megawati Harahap dimana Ayahanda dari ibu itu meninggal dunia  pada hari rabu 7 Desember 2011 di kelurahan  SiRampak Padangsidimpuan.
Jenazah disemayamkan di rumah duka kelurahan Sirampak kota Padangsidimpuan.Rencananya hari ini juga Jenazah akan dimakamkan.KELUARGA BESAR SMPN 1 BATANG ONANG TURUT BERDUKA CITA YANG SEDAM-DALAMNYA ATAS BERPULANGNYA KE RAHMATULLAH AYAHANDA IBU MEGAWATI HARAHAP,SEMOGA ALMARHUM MENDAPATKAN TEMPAT TERBAIK DI SISINYA DAN KEPADA KELUARGA YANG DITINGGALKAN TABAH MENGHADAPI MUSIBAH INI,AMIN.

Senin, 05 Desember 2011

IBU SELVIA NANCI HASIBUAN AKHIRI MASA LAJANG

Salah seorang Ibu Tenaga Tata Usaha di SMPN 1 BATANG ONANG  Silvia Nanci Hasibuan akan segera mengakhiri masa lajang.Demikian informasi resmi yang disampaikan Ibu Nanci  di hadapan para guru,baik lewat lisan maupun surat Undangan yang disebar kepada warga sekolah.
Dalam surat undangan tersebut tertulis hari pernikahan Ibu itu dilangsungkan pada hari Sabtu, tanggal 10 Desember 2011 jam delapan pagi WIB bertempat di rumah kediaman beliau desa Pasarmatanggor kabupaten Padang lawas Utara .
Dalam surat undangannya juga tertulis,Ibu Nanci akan langsung Mengadakan RESEPSI pernikahan di tempat yang sama, satu jam setelah akad nikah.  

Rabu, 30 November 2011

580 MILYAR UNTUK UN TAHUN 2012

PENDIDIKAN
Rabu, 30 November 2011 , 20:08:00
Anggaran UN 2012 Diusulkan Rp580 Miliar

JAKARTA—Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Kabalitbang) Kemdikbud, Chairil Anwar Notodiputro menjelaskan, rencana pelaksanaan ujian nasional (UN) 2012 telah dianggarkan sebesar Rp580 miliar. Angka tersebut naik sebesar Rp 17,2 miliar dari anggaran UN tahun 2011, yang hanya sebesar Rp 562,8 miliar. Namun, besaran angka tersebut hingga saat ini masih dalam proses pembahasan bersama DPR RI.

“Anggarannya belum diketok. Tapi kita sudah mengusulkan sebesar Rp 580 miliar,” ungkap Chairil ketika ditemui di Gedung Kemdikbud, Jakarta, Rabu (30/11).

Chairil mengungkapkan, dana yang akan disalurkan pemerintah pusat tersebut nantinya juga akan dibantu dengan anggaran daerah. Menurutnya, masalah anggaran UN ini tak hanya terkait pencetakan dan distribusi soal saja, melainkan juga harus ada anggaran untuk membayar honor pengawas.

“Semua dana tentunya bukan hanya dari pusat. Ada juga yang di daerah, mengingat pelaksanaannya kan ada di daerah juga. Yang di pusat hanya masalah pencetakan soal dan distribusi saja. Sementara yang lainnya seperti pembayaran honor pengawas diserahkan ke daerag,” jelasnya.

Mengenai proses pencetakan soal, Chairil menerangkan akan ditenderkan selama 45 hari yang dimulai pada akhir Desember 2011 ini. Sedangkan pengumumannya, akan diumumkan pada bulan Februari 2012 mendatang. Pada pertengahan Februari nanti, sudah ketahuan siapa pemenang tendernya,” imbuh Chairil.

Sementara itu mengenai pembagian regional pencetakan soal, lanjut Chairil, akan dibagi ke dalam tiga regional, yakni Barat, Tengah dan Timur. Selain itu, juga ditentukan oleh jumlah peserta sehingga satu region itu relative sama. “Sehingga nanti tidak akan ada yang iri ada yang dapat basah da ada yang kering. Semua rate-nya sama,” tegasnya. (cha/jpnn)

PRESIDEN HADIRI PUNCAK HARI GURU

BOGOR, KOMPAS.com — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Ibu Negara Ani Yudhoyono dijadwalkan menghadiri puncak peringatan Hari Guru Nasional 2011 dan Hari Ulang Tahun Ke-66 Persatuan Guru RI di Sentul International Convention Center, Bogor, Rabu (30/11/2011).

Pada peringatan tahun ini, yang mengambil tema "Meningkatkan Peran Strategis Guru untuk Membangun Karakter Bangsa", Kepala Negara akan memberikan penghargaan kepada guru dan kepala sekolah berprestasi. Mereka adalah Abdul Hajar, guru SMAN 3 Makassar; Herfen Suryati, guru YPVDP Bontang; H Imron Rosidi, guru SMKN 2 Pasuruan; Mustafa, guru SMKN 4 Makassar; dan Akib Ibrahim, Kepala SMK Negeri 1 Pacet, Cianjur.

Turut hadir pada peringatan ini, antara lain, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Ketua PB PGRI Sulistiyo, dan sekitar 4.500 guru dari Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.

Acara peringatan Hari Guru 2011 akan diisi oleh berbagai pagelaran seni, seperti lantunan merdu lagu "Indonesia Jaya" yang dinyanyikan oleh Naomi, juara nasional penyanyi solo tingkat pelajar dari SMPN 252 Jakarta. Selain itu, akan dihibur pula dengan Tari Jaipong Mojang Priangan yang ditampilkan oleh guru-guru dari Kabupaten Bogor, tarian Rampak Gendeng dari SMKN 10 Bandung, dan lagu himne guru beserta mars PGRI yang dinyanyikan oleh tim paduan suara siswa dan guru DKI Jakarta.

Senin, 28 November 2011

SMPN 1 BATANG ONANG PALUTA: Sambutan Menteri Pendidikan Pada Hari Guru Tahun ...

SMPN 1 BATANG ONANG PALUTA: Sambutan Menteri Pendidikan Pada Hari Guru Tahun ...: MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DALAM PERINGATAN HARI GURU NASIONAL 201...

Sambutan Menteri Pendidikan Pada Hari Guru Tahun 2011


MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
REPUBLIK INDONESIA
SAMBUTAN
MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
DALAM PERINGATAN HARI GURU NASIONAL 2011
25 NOVEMBER 2011
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
dan Salam Sejahtera,

Alhamdulillah, puji syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat  Tuhan Yang Maha
Esa, Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada kita, sehingga
kita  masih  bisa menjalankan aktivitas  pengabdian  di dunia pendidikan dan
kebudayaan dengan baik.
Perkenankan saya atas nama pribadi dan Pemerintah, menyampaikan ucapan terima
kasih dan penghargaan setinggi-tingginya atas dedikasi, komitmen, dan  segala
ikhtiar yang telah dilakukan oleh  para Guru, tenaga pendidik, dan kependidikan
dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam kesempatan ini pula, saya ucapkan
selamat memperingati Hari  Guru Nasional  tahun 2011 dan sekaligus selamat  Hari
Ulang Tahun (HUT) ke-66 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).
Hadirin sekalian yang saya muliakan
Seorang guru teladan pernah ditanya mengapa dia tertarik menjadi guru? Jawabnya
adalah karena guru  (bahkan hanya guru)  yang dapat merasakan dan menyentuh
pinggiran masa depan. Dia tidak berharap dapat menyentuh masa depan karena hal
itu  adalah  sesuatu yang mustahil. Tetapi cukup dapat menyentuh pinggiran masa
depan, karena melalui persinggungan dengan peserta didiknya yang mewakili masa
depan tersebut, profesi guru menjadi jauh lebih menarik daripada profesi yang lain.
Itulah sesungguhnya jawaban Guru Teladan.2
Kemampuan menyentuh masa depan, walaupun hanya pinggirannya, menempatkan
guru pada tanggung jawab yang sangat berat, namun mulia; karena kemampuan
dan kesempatan itu tidak dimiliki yang lain. Pada dirinya tertumpu beban tanggung
jawab menyiapkan masa depan yang lebih baik,  yaitu dengan berfungsi sebagai
jembatan bagi para peserta didik untuk melintas menuju masa depan mereka.
Ke masa depan  yang bagaimana peserta didik akan dibawa tergantung pada
jembatan itu.  Dari tiga penggalan masa (masa lalu,  masa  kini, dan masa depan),
masa depanlah yang menjadi tujuan dengan memanfaatkan sebaik-baiknya masa
lalu dan masa kini. Tugas guru  sangat mulia karena menyiapkan  generasi penerus
demi masa depannya yang lebih baik, lebih berbudaya, dan  sekaligus membangun
peradaban. Dengan demikian, secara hakiki dan asali (genuine) guru adalah mulia,
menjadi guru  berarti  menjadi mulia, bahkan kemuliaannya  sama sekali tidak
memerlukan atribut tambahan (aksesori).  Memuliakan profesi yang mulia (guru)
adalah kemuliaan, dan hanya orang-orang mulia yang tahu bagaimana memuliakan
dan menghargai kemuliaan.
Hadirin sekalian yang saya hormati
Bertanggung jawab terhadap pembentukan masa depan menunjukkan bahwa guru
berbeda  dari profesi  lainnya.  Oleh sebab itu, tidaklah berlebihan apabila sebagai
profesi, guru mendapat kehormatan memiliki Hari Guru. Kehormatan yang tinggi ini
memiliki implikasi pentingnya profesionalitas guru.
Profesionalitas guru akan terasa hasilnya pada masa depan, yang apabila salah arah,
akan mustahil diputar kembali untuk memperbaikinya, karena pendidikan adalah
proses yang tidak bisa dibalik (irreversible process). Dampaknya yang masif di masa
yang  jauh  di depan mengharuskan  upaya pemeliharaan dan peningkatan
profesionalitas guru  yang dilakukan secara berkelanjutan dan seksama. Kita tidak
boleh terjebak hanya karena pertimbangan kepentingan praktis sesaat.
Hubungan antara profesionalitas dan kompetensi ibarat keberadaan unsur oksigen di
dalam air. Mustahil akan ada air tanpa kehadiran unsur oksigen. Oleh karena itu,
pemikiran tentang  pentingnya pengukuran (uji) kompetensi yang dikaitkan dengan 3
proses sertifikasi adalah suatu keniscayaan. Hal ini dilakukan untuk mengukur lebih
teliti kesiapan menjalani profesi guru dan menjamin bahwa masa depan tidak salah
arah.
Ke depan bukan hanya kesiapan yang akan diukur, tetapi lebih jauh lagi adalah
kelayakan seseorang menjalani profesi guru. Dengan cara ini kita dapat menjamin
bahwa  menjadi guru,  selain karena panggilan hati nurani,  ia telah siap dan layak
menjalani profesi guru.  Pemberian  perhatian  secara  khusus mulai dari  perekrutan
calon guru, pendidikan guru, peningkatan profesionalitas, sampai dengan
perlindungan dan kesejahteraan guru harus dilakukan.
Kelayakan menjalani profesi guru sangat diperlukan mengingat tugas guru memiliki
ukuran multi-dimensional yang sangat kompleks  dan  terkait dengan penyiapan
generasi penerus yang lebih baik dalam segala hal.  Ketidaklayakan guru, bisa
berakibat terjadinya kecacatan dalam proses pembentukan pola pikir, pengasahan
mata hati, dan pembiasaan perilaku sosial peserta didik. Sebagai jembatan ke masa
depan, guru harus memastikan bahwa peserta didiknya adalah jembatan bagi masa
depan mereka menuju ke masa depan berikutnya.
Hadirin sekalian yang saya hormati
Dalam mempersiapkan masa depan, guru tidak cukup hanya mengajarkan apa yang
diketahuinya karena hal itu bisa menjadi tidak relevan lagi pada masa ketika peserta
didik menjalani kehidupan mereka sendiri. Guru yang baik akan menjelaskan sesuatu
kepada muridnya sehingga paham, tetapi guru yang hebat adalah guru yang mampu
menginspirasi  dan  memotivasi  muridnya,  sehingga mampu berbuat sesuatu yang
baik dengan kemampuannya sendiri. Di sinilah pentingnya Guru sebagai sumber
keteladanan dan kemampuan dalam menumbuhkan motivasi.
Sebagaimana yang diujarkan dalam kata-kata bijak, satu tindakan baik dari seorang
murid yang berasal dari inspirasi seorang guru adalah lebih penting daripada semua
hapalan dan ilmu yang diperolehnya selama sekolah. Kemampuan membentuk
karakter peserta didik  tidak boleh terabaikan, tetapi menjadi satu kesatuan dari
tugas guru. Tugas dunia pendidikan  adalah membentuk kepribadian yang unggul 4
dan mulia, serta mengajarkan pengetahuan dan  keterampilan. Kemampuan
semacam ini hanya dimiliki oleh sedikit orang yang berbakat, berhasrat, dan
berkemampuan menjadi guru.  Orang yang sedikit itu adalah Ibu dan Bapak Guru.
Berbahagialah wahai Ibu dan Bapak guru sekalian yang telah terpilih mengemban
tugas suci kemanusiaan ini.
Hadirin sekalian yang saya hormati
Demikianlah yang bisa saya sampaikan. Selamat berhari Guru, harinya orang-orang
mulia yang tugasnya menyiapkan kemuliaan bagi generasi menuju masa depan yang
lebih mulia; orang yang paham bagaimana menjaga kemuliaan dan akhirnya, insyaAllah kita semua akan dimuliakan oleh Yang Maha Mulia.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Jakarta, 21 November 2011
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Mohammad NUH

Rabu, 23 November 2011

PENDIDIKAN KARAKTER


Arti Pendidikan Karakter

Isi: 
Oleh: Prof. Ibnu Hamad, Kepala Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat Kemdikbud

Seperti terminologi lainnya, tidak ada defenisi tunggal untuk pendidikan karakter. Secara etimologis, karakter berarti watak atau tabiat. Ada juga yang menyamakannya dengan kebiasaan. Selain itu ada yang mengaitkannya dengan keyakinan. Bahkan disamakan dengan akhlak.

Dari pengertian ini, yang jelas karakter sering dikaitkan dengan kejiwaan. Karenanya, menurut ahli psikologi, karakter adalah sistem keyakinan dan kebiasaan yang ada dalam diri seseorang yang mengarahkannya dalam bertingkah laku.

Lalu dimanakah letak karakter dalam diri seseorang? Inipun sulit dijawab. Namun ada “hukum” yang menarik terkait karakter. Kira-kira begini bunyinya: pikiran menghasilkan ucapan; ucapan mempengaruhi tindakan; tindakan menghasilkan kebiasaan; kebiasaan membentuk karakter; karakter menentukan nasib.

Ternyata, hal yang paling mendasar dalam pembentukan karakter itu tiada lain adalah pikiran. Maklumlah, dalam pikiran itulah semua tindakan manusia itu diprogram. Bermula dari pikiran itulah, baik buruknya tindakan manusia berasal. Bilamana pikirannya positif, maka tindakannya positif dan sebaliknya.

Oleh sebab itu, pikiran harus mendapatkan asupan yang baik agar menghasilkan asupan yang baik agar menghasilkan tindakan yang baik. Dalam konteks inilah pendidikan karakter sangat penting guna memberikan asupan yang baik itu. Kenyataannya, secara intrinsik yang namanya pendidikan bertujuan memberikan pikiran-pikiran positif. Jadi kloplah pasangan kata pendidikan dan karakter ini.

Empat Dimensi Pendidikan Karakter

Mencermati konsep dasar pendidikan, karakter yang dikembangkan Kemdiknas, tampaklah di sana empat dimensinya. Empat dimensi pendidikan karakter meliputi: olah pikir, olah hati, olah raga, dan oleh karsa.

Yang patut dicatat dalam empat dimensi ini adalah keterkaitan di antara mereka satu sama lain dilambangkan dengan empat lingkaran yang saling mengikat. Maknanya, karakter seorang individu dinyatakan lengkap jika keempat dimensi itu tumbuh dan berkembang dalam diri yang bersangkutan.

Tidak sempurna pribadi seseorang jika hanya pintar saja (olah otak). Apa artinya jika kepandaian jika tidak memiliki sifat-sifat ketuhanan, kemanusiaan, dan kesosialan serta kewargaan. Karena itu perlu olah hati.

Tentu saja, selain otak dan hatinya perlu berkembang, manusia juga perlu berkembang raga dan karsanya. Hal demikian agar ia dapat hadir di lingkungan sosialnya. Otak yang pintar dan hati yang lembut, belum sepenuhnya berguna jika belum memberikan kemanfaatan bagi sekitarnya.

Sedangkan olah raga, diperlukan agar seseorang memiliki keterjagaan fisik. Dengan sehat secara fisik, maka ketiga potensi sebelumnya, otak, hati, dan rasa, dapat dimanfaatkan secara optimal. Bayangkan, jika seseorang yang pintar otaknya, lembut hatinya, banyak karsanya, namun sakit-sakitan maka ia tidak akan memberikan dampak yang maksimal bagi lingkungannya.

Nilai Inti Pendidikan Karakter

Mendiknas, M. Nuh mengibaratkan nilai-nilai pada pendidikan karakter itu, termasuk yang berada dalam empat dimensi itu -- sebagai sebuah pohon. Ibarat pohon, pendidikan karakter itu memiliki akar yang karenanya pohon itu dapat tumbuh dan berkembang. Demikian pula seseorang bisa hidup dengan baik jika memiliki nilai-nilai inti karakter sebagai akar kehidupannya. Nilai inti tersebut terdiri dari empat aspek.

Pertama, jujur. Semua orang tak terkecuali orang jahat apalagi orang baik, menyukai kejujuran. Kejujuran menghasilkan kebaikan. Dengan jujur, semua masalah menjadi mudah terpecahkan.

Kedua, cerdas. Sudah terang jujur merupakan sesuatu yang mendasar dalam hidup seseorang. Namun jujur saja tetapi –maaf- bodoh kurang berarti karena itu akan lebih banyak menjadi beban bagi orang lain. Oleh sebab itu ia harus cerdas supaya bisa mengambil peran aktif dalam menjawab setiap persoalan paling tidak yang menimpa dirinya sendiri.

Ketiga, bisa berteman. Apa artinya jujur dan cerdas namun tidak bisa bergaul dengan orang lain? Orang egois, mau menang sendiri saja, dan suka menyakiti orang lain tak banyak manfaatnya walaupun jujur dan cerdas. Karenanya karakter yang harus dimiliki adalah harus bisa berteman.

Keempat, bertanggung jawab. Inilah karakter yang menjadi taruhan seseorang dalam kehidupan sosialnya. Sebagai sikap ksatria, karakter bertanggung jawab mencerminkan kepribadian yang dapat diandalkan sekaligus membanggakan. Bukankah setiap perbuatan selalu dimintai pertanggungjawabannya?

Tujuan PK

Dalam berbagai kesempatan Mendiknas, M. Nuh menegaskan bahwa pendidikan karakter bagi peserta didik Indonesia bertujuan hendak menjadikan manusia Indonesia sebagai individu yang memiliki tiga elemen sekaligus di bawah ini.

Pertama, sebagai makhluk Tuhan yang mengakui bahwa semua makhluk di hadapan Tuhan itu sama. Bahwasanya sesame makhluk Tuhan tidak ada yang lebih unggul dan lebih hebat dari yang lainnya. Jika setiap orang memiliki pikiran seperti ini, niscaya akan timbul rasa saling mengasihi antar sesama. Hidup pun menjadi rukun dan saling menghormati, toleran dengan perbedaan, dan suka tolong menolong.

Kedua, sebagai manusia intelektual yang memiliki kepenasaranan untuk tahu (curiousity) terhadap berbagai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian, seseorang akan pintar dan cerdas karena selalu berusaha menambah ilmu dan keterampilannya. Pada gilirannya, iptek yang dikuasainya tersebut dapat dimanfaatkan bukan saja untuk kepentingan dirinya sendiri melainkan juga kemaslahatan orang lain bahkan warga dunia.

Ketiga, sebgai warga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang cinta dan bangga pada tanah air. Cinta dicirikan oleh rasa memiliki yang kuat pada NKRI yang berasaskan Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika. Bangga diindikasikan oleh raihan prestasi yang disumbangkan pada NKRI demi kejayaan bangsa dan negara. Dengan tiga tujuan utama ini, pendidikan karakter bersifat komprehensif yang hendak menjadikan setiap anak bangsa memiliki watak yang menjunjung tinggi nilai ketaqwaan, kesosialan, dan kebangsaan. Lebih dari itu, watak ketaqwaan, kesosialan, dan kebangsaan tidak dilakukan secara membabi buta melainkan dilaksanakan dengan penuh kesadaran karena ketiga watak ini disertai dengan watak keilmuan (curiousity)

Kearifan Lokal untuk Pendidikan Karakter

Disadari atau tidak, sungguh amat banyak nilai-nilai tradisional yang hidup dalam masyarakat yang dapat dijadikan sebagai muatan pendidikan karakter. Nilai-nilai tradisi ini telah menjadi kearifan lokal yang walaupun berbeda-beda di antara suku-suku bangsa namun memiliki kesamaan yang sangat signifikan. Manakala nilai-nilai tradisional ini hendak disinkronkan dengan pendidikan karakter niscaya sangat sejalan dengan nilai inti dan tujuan pendidikan karakter.

Tercatat dalam sejarah perjalanan bangsa kita, kepercayaan pada sesuatu yang supranatural menjadi bagian hidup dari kebanyakan suku bangsa. Sebelum Hindu sebagai agama yang pertama kali datang ke Indonesia, suku-suku bangsa di Tanah Air umumnya menganut animisme dan dinamisme. Mereka percaya bahwa di balik alam yang nyata itu ada kekuatan yang mengendalikan hidup mereka dan mereka memujanya. Lewat pemujaan itu mereka berharap kehidupan mereka, sanak familinya dan lingkungannya berjalan dengan baik. Atas dasar kepercayaan yang dianutnya mereka menata harmoni sosial mereka.

Ketika agama-agama masuk mulai dari Hindu, Budha, Konghucu, Kristen, dan Islam, kepercayaan bangsa Indonesia kepada tuhan semakin berkembang. Sesuai dengan keyakinan dan kepercayaannya masing-masing, setiap pemeluk agama percaya bahwa hanya Tuhan yang Maha Besar dan Maha Kuasa; sedangkan manusia harus tunduk dan patuh pada titahNya termasuk menghargai sesama dan melestarikan alam sekitar.

Selanjutnya kepercayaan kepada Tuhan itu bukan saja menjadi landasan spiritual serta tuntutan dan tuntunan ritual para pemeluknya, melainkan pula menjadi sumber nilai dan norma sosial seperti kejujuran, tolong menolong, bertanggung jawab dan lain sebagainya. Seperti dimaklumi, salah satu pilar keimanan adalah percaya bahwa Tuhan maha melihat. Pilar inilah yang membuat pemeluk agama merasa harus selalu jujur. Pilar lainnya, setiap perbuatan manusia akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di hadapan Tuhan. Aspek inilah yang mendorong para pemeluk agama selalu mempertimbangkan setiap tindakannya: apakah sejalan dengan ajaran agama ataukah menyimpang. Sedangkan untuk sikap tolong menolong, setiap agama memerintahkannya minimal di anatara pemeluk agamanya masing-masing.

Di samping nilai dan norma yang bersumber dari agama, di tengah masyarakat kita dalam suku-suku bangsa Indonesia juga ada dan masih hidup nilai-nilai dan norma sosial yang bersumber dari adat. Biasanya kearifan lokal yang bersumber dari adat ini berbentuk pepatah petitih yang mengajarkan kebaikan seperti ajakan untuk menambah pengetahuan, dorongan untuk kerja keras, nasihat dalam mengumpulkan kekayaan, unggah ungguh berbahasa, cara menghormati orang lain, hingga ajaran melestarikan alam sekitar.

Secara turun temurun kearifan lokal yang bersumber dari adat istiadat itu, dan bersanding dengan kearifan lokal yang bersumber dari ajaran agama, masih terus diwariskan dan sesungguhnya masih hidup di tengah masyarakat kita. Karena itu, ketika pendidikan karakter didengungkan ulang maka sejatinya kearifan lokal itu dapat digunakan untuk memperkuat pendidikan karakter. Sebaliknya pendidikan karakter ini merevitalisasi kearifan lokal untuk dimanfaatkan dalam rangka kehidupan berbangsa dan bernegara.

Oleh karena tokoh-tokoh pemangku kearifan lokal ini pada dasarnya masih banyak, dan pada umumnya terdidik, maka sangat terbukalah peluang mereka untuk menyandingkan pendidikan karakter dan kearifan lokal. Bilamana kita mampu menyandingkan dalam arti menunjukkan bahwa pendidikan karakter sejalan dengan nilai tradisi kita sendiri, maka efektivitas pendidikan karakter akan cepat terasa. Semoga.

HARI GURU


Presiden Akan Hadiri Peringatan Hari Guru Nasional 2011

11/23/2011
Jakarta --- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerja sama dengan Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI)  akan menyelenggarakan puncak peringatan Hari Guru Nasional Tahun 2011 dan Hari Ulang Tahun ke-66 PGRI.  Puncak peringatan tersebut akan dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, para menteri Kabinet Indonesia Bersatu II, para ketua lembaga tinggi negara, dan sekitar 4.500 guru dari berbagai wilayah di Indonesia.
“Presiden akan menyerahkan tanda kehormatan Satya Lencana Pembangunan bidang Pendidikan kepada gubernur dan bupati/wali kota yang berkomitmen tinggi dalam pembangunan pendidikan,” ujar Syawal Gultom, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan, pada jumpa pers di Gedung D Kemdikbud, Rabu, (23/11). Komitmen kepala daerah itu khususnya dalam peningkatan profesionalitas dan kesejahteraan guru dan tenaga kependidikan. Presiden juga akan menyerahkan tanda kehormatan Satya Lencana Pendidikan kepada guru, kepala sekolah, penilik, pengawas, dan pamong berprestasi dan berdedikasi luar biasa.
Hari Guru Nasional (HGN) diperingati setiap 25 November. Tahun ini, peringatan HGN mengambil tema “Meningkatkan Peran Strategis Guru untuk Membangun Karakter Bangsa”, dengan subtema “Peningkatan Kinerja Guru untuk Pendidikan Bermutu”.
Tema yang diambil ini bertujuan meningkatkan kesadaran dan komitmen guru terhadap budaya mutu dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Di samping itu, juga agar dapat meneladani semangat dan dedikasi guru sebagai pendidik profesional dan bermartabat bagi anak bangsa dalam meningkatkan sumber daya manusia yang bermutu. Puncak peringatan HGN 2011 akan dilaksanakan di Sentul International Convention Center, Bogor, pada Rabu, 30 November 2011.
Syawal  menjelaskan, salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan kualifikasi guru adalah dengan menyediakan beasiswa untuk guru yang belum menyandang gelar S1. Sementara untuk distribusi atau pemerataan guru di daerah-daerah, salah satu hambatannya adalah otonomi daerah.  “Pendidikan sekarang menjadi urusan otonomi daerah, sehingga distribusi guru cukup sulit. Tapi kita tidak akan menyerah begitu saja. Ada Surat Keputusan Bersama (SKB) untuk melakukan koordinasi,” ujarnya.
Selain diselenggarakan di tingkat nasional, peringatan HGN 2011 juga diselenggarakan di tingkat provinsi, kabupaten/kota, dan sekolah/madrasah, antara lain diisi dengan kegiatan forum ilmiah guru, seminar peningkatan profesionalisme guru, juga pekan olah raga dan seni guru.
Selain Syawal, hadir dalam jumpa pers tadi siang adalah Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Suyanto; Dirjen Pendidikan Menengah Hamid Muhammad; dan Ketua PB PGRI, Sulistyo. (lian)