Oleh : Mahsun
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemdikbud
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemdikbud
Pendahuluan
Ahli bahasa atau linguis mungkin akan merasa
sangat puas tatkala menganalisis bahasa sebagai suatu sistem, di mana
fungsi variabel-variabel linguistik tergantung pada gejala-gejala
lingusitik lain, sehingga dia tidak perlu mencari penjelasan yang berada
di luar bahasa untuk menyelesaikan masalah kebahasaan. Namun demikian,
amatlah penting untuk disadari bahwa bahasa digunakan oleh manusia yang
mejadi anggota masyarakat tertentu, yang masing-masing memiliki
kebudayaan yang khas.
Ada kecenderungan bahwa para individu berbeda-beda
dalam penggunaan bahasa. Oleh karena itu, Variabelvariabel sosial
seperti kelas dan status orang yang berbicara juga mempengaruhi caranya
menggunakan bahasa. Selain itu, orang memilih menggunakan kata-kata
sedemikian rupa sehingga dapat menyampaikan sesuatu yang berarti, dan
apa yang berarti dalam kebudayaan yang satu dapat berbeda dengan apa
yang berarti dalam kebudayaan yang lain. Dalam kenyataannya, cara kita
menggunakan bahasa mempengaruhi dan dipengaruhi oleh kebudayaan kita.
Berdasarkan pengalamannya dalam menganalisis
bahasa Indian Hopi, Edwar Sapir bersama muridnya Benyamin Lee Whorf
mengembangkan suatu teori, yang terkenal dengan sebutan Sapir-Whorf
Hyphothesis. Menurut teori ini, bahwa bahasa bukan sekadar cara memberi
kode untuk proses menyuarakan gagasan dan kebutuhan manusia, tetapi
lebih merupakan suatu pengaruh pembentuk yang melalui penyediaan
galur-galur ungkapan yang mapan, yang menyebabkan orang melihat dunia
dengan caracara tertentu, mengarahkan pikiran dan perilaku manusia.
Dengan demikian, tak dapat disangkal lagi bahwa bahasa merupaka salah
satu unsur kebudayaan yang sekaligus menjadi wadah serta pembentuk
kebudayaan itu sendiri.
Bahasa Ibu dan Pembangunan Kebudayaan Daerah
Konsep kebudayaan daerah sering dipertentangkan
dengan kebudayaan nasional. Namun, dengan tidak melibatkan diri dalam
diskusi tentang kedua konsep kebudayaan yang dalam tatanan berbangsa dan
bernegara sering dipertentangkan tersebut, karena yang satu menafikan
keberadaan yang lain, maka konsep kebudaayaan daerah dalam tulisan ini
mengacu pada kebudayaan yang terdapat pada sukubangsa-sukubangsa dalam
suatu negara. Dengan kata lain, dalam konteks Negara Kesatuan Republik
Indonesia, kebudayaan daerah adalah kebudayaan yang dimiliki oleh
sukubangsa-sukubangsa yang tersebar di seluruh wilayah RI, seperti
kebudayaan Jawa, Bali, Sasak, Samawa, Mbojo, Sunda, Bugis dll.
Adapun kebudayaan itu sendiri merupakan
seperangkat peraturan atau norma yang dimiliki bersama oleh para anggota
masyarakat, yang kalau dilaksanakan oleh para anggotanya, melahirkan
perilaku yang dipandang layak dan dapat diterima oleh seluruh anggota
masyarakat tersebut (Haviland, 1999: 333). Dengan demikian, kebudayaan
terdiri dari nilai-nilai, kepercayaan, dan persepsi abstrak tentang
jagat raya yang berada di balik, dan yang tercermin dalam perilaku
manusia. Semua itu merupakan milik bersama para anggota masyarakat, dan
apabila orang berbuat sesuai dengan itu, maka perilaku mereka dianggap
dapat diterima di dalam masyarakat. Persoalannya mengapa kebudayaan itu
harus ada? Orang memelihara kebudayaan untuk menangani masalah dan
persoalan yang dihadapi. Agar lestari, kebudaayaan harus dapat memenuhi
kebutuhankebutuhan pokok dari orang-orang yang hidup menurut
peraturan-peraturannya, harus memelihara kelangsungan hidupnya sendiri,
dan mengatur agar anggota masyarakat dapat hidup secara teratur.
Dalam hal ini, kebudayaan harus menemukan
keseimbangan antara kepentingan pribadi masing-masing orang dan
kebutuhan masyarakat sebagai suatu keseluruhan. Karena itu pula,
kebudayaan harus memiliki kemampuan untuk berubah agar dapat
menyesuaikan diri dengan keadaan-keadaan baru atau mengubah persepsinya
tentang keadaan yang ada. Persoalannya, bagaimanakan kebudaayaan
(daerah) itu dibangun melalui bahasa ibu ? Dengan kata lain, bagaimana
bahasa ibu itu berperan dalam membangun kebudayaan daerah ?
Untuk artikel lengkapnya, unduh di sini.